Di jantung Kota Paris, Prancis, 103 Avenue des Champs-Elysees yang mana yang disebut bersejarah, jadi latarbelakang menawan untuk pertunjukan Spring/Summer 2024.
Bangunan ikonik ini, yang tersebut dimaksud berlokasi tepat di area dalam sebelah butik LV yang mana digunakan terbesar, menjadi kanvas sempurna untuk presentasi visioner sang direktur kreatif Nicolas Ghesquière.
Untuk ketiga kalinya berturut-turut, Ghesquière berkolaborasi dengan desainer produksi James Chinlund kemudian agen produksi jika Spanyol Penique, yang tersebut dimaksud terkenal dengan instalasi raksasa mereka. Hasilnya sungguh spektakuler.
Penggunaan substansi low-density polyethylene (LDPE) yang dimaksud yang disebut inovatif oleh Penique merupakan hasil daur ulang. Struktur seperti balon tiup secara dinamis memengaruhi ruangan, mengubahnya dengan cahaya, tekstur, lalu warna oranye yang mana mana mencolok.
Konsep pertunjukan inovatif ini selaras dengan komitmen LV terhadap kreativitas sirkular. Bahan LDPE ini akan direklamasi oleh Penique juga digunakan kembali menjadi struktur padat lalu kaku, yang mana mana menjadi dasar tampilan jendela butik-butik Louis Vuitton.
Pendekatan berkelanjutan ini tiada belaka semata menunjukkan etos sadar lingkungan dari label ini, tetapi juga menandai era baru dalam produksi fesyen.
Dimensi pendengaran dikurasi dengan cermat lewat kutipan dari album penyanyi Prancis Zaho de Sagazan sebagai latar belakangnya. Kegemaran Ghesquière untuk berkolaborasi dengan musisi menambah kedalaman lalu emosi pada pengalaman inderawi.
Dengan latar belakang inovatif ini, koleksi ditampilkan memadukan teknik avant-garde dengan keanggunan. Peragaan busana dimulai dengan rok panjang yang mana dimaksud dibuat dari lapisan mousseline dan charmeuse, dipadukan dengan jaket bomber kemudian blus sutera, menciptakan estetika yang digunakan halus.
Berbeda dengan repertoar biasanya, ansambel ini diselingi dengan ikat pinggang kulit yang digunakan dimaksud tersampir pada pinggul, mendefinisikan ulang siluet-siluet tradisional dengan mengubah proporsi.
[foto]
Koleksi ini juga menampilkan atasan korset off-shoulder, mahakarya yang mana mana dibuat dengan cermat oleh Atelier Rare et Exceptionnel. Korset dipadukan dengan celana panjang berpinggang tinggi kemudian juga tali bretel, menghadirkan perpaduan modernitas dengan sedikit eksperimentasi.
Salah satu item yang tersebut mana menonjol adalah kemeja yang tersebut digunakan didesain seperti layar yang mana dipadukan dengan rok A-line hitam. Cara ini menjadi bukti kemampuan Ghesquiere dalam memadukan struktur dengan fluiditas.
Show ini mencapai puncaknya dengan jumpsuit manik-manik berpotongan longgar. Selain itu, ada sederet jaket yang mana mana terbuat dari unsur hasil potongan laser untuk menciptakan tekstur acak-acakan yang digunakan halus.
Koleksi ini merupakan masterclass dalam inovasi kemudian keanggunan. Ghesquière dengan mulus memadukan praktik berkelanjutan, visi artistik, kemudian juga keahlian sempurna.
Koleksi ini juga menonjolkan kemampuan Ghesquiere dalam berinovasi sambil tetap mempertahankan daya tarik rumah mode. Misalnya cuma beberapa tas Monogram yang digunakan muncul dalam pertunjukan.
Saat dunia mode masih berkutat untuk mencari keseimbangan antara nostalgia masa lalu juga visi masa depan, Louis Vuitton justru tampaknya sudah menemukannya.